Seminar Nasional GALAKSI IX 2026 Bahas Optimalisasi Manajerial Inovasi Pembelajaran IPA di Era Digital

Jember, 23 Oktober 2026 – Seminar Nasional Gebyar Islami Kompetisi Sains (GALAKSI) IX 2026 diselenggarakan oleh HMPS Tadris IPA UIN KHAS Jember sebagai bagian dari rangkaian kegiatan GALAKSI IX. Seminar ini mengangkat tema “Optimalisasi Manajerial Inovasi Pembelajaran IPA di Era Digital untuk Membangun Pendidikan Berintegritas” dengan menghadirkan Anik Rumpiati, S.Pd., guru IPA MTsN 2 Jember, sebagai pemateri dan Shanti Aurina, mahasiswa aktif Tadris IPA UIN KHAS Jember, sebagai moderator. Kegiatan dilaksanakan secara hybrid, yaitu secara luring di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) UIN KHAS Jember dan secara daring melalui Zoom.

Seminar nasional ini bertujuan untuk memperluas wawasan peserta mengenai pengelolaan inovasi pembelajaran IPA yang kreatif, interaktif, dan efektif di era digital. Kegiatan ini juga menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman bagi mahasiswa, khususnya calon pendidik IPA, agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara tepat dalam proses pembelajaran tanpa mengesampingkan nilai-nilai integritas pendidikan.

Kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan moderator dan pemateri. Dalam kesempatan tersebut, Shanti Aurina memandu jalannya seminar dan memperkenalkan Anik Rumpiati, S.Pd., sebagai pemateri yang memiliki pengalaman dalam bidang pembelajaran IPA. Selanjutnya, pemateri menyampaikan materi mengenai pentingnya inovasi dan pengelolaan pembelajaran sains yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik di era digital.

Dalam pemaparannya, Anik Rumpiati menjelaskan bahwa perkembangan teknologi menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan. Peserta didik saat ini semakin dekat dengan teknologi digital, sedangkan pembelajaran IPA membutuhkan pengalaman langsung melalui kegiatan mengamati, mencoba, menganalisis, dan menyimpulkan. Oleh karena itu, guru perlu menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, kontekstual, dan interaktif.

Ia menegaskan bahwa “Teknologi bukan pengganti guru, tetapi penguat pembelajaran.” Pernyataan tersebut menekankan bahwa teknologi seharusnya digunakan untuk mendukung peran guru dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik, bukan menggantikan peran guru dalam membimbing dan mengarahkan peserta didik.

Lebih lanjut, pemateri menjelaskan bahwa inovasi pembelajaran tidak cukup hanya dengan menggunakan teknologi. Inovasi harus direncanakan, dilaksanakan, dievaluasi, dan dikembangkan secara berkelanjutan. Pengelolaan tersebut mencakup perencanaan kebutuhan dan tujuan pembelajaran, pengorganisasian sumber daya, pelaksanaan inovasi, pengukuran hasil, serta perbaikan secara berkala. Dengan pengelolaan yang tepat, penggunaan teknologi dapat memberikan manfaat nyata bagi proses pembelajaran.

Dalam penerapannya, terdapat berbagai media digital yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran IPA, seperti video pembelajaran, animasi, laboratorium virtual (virtual lab), simulasi digital, kuis interaktif, dan Google Form. Media tersebut dapat membantu menjelaskan materi yang abstrak, memberikan pengalaman eksperimen ketika praktikum langsung terbatas, serta meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam kegiatan belajar.

Pemateri juga membahas pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran IPA. AI dapat membantu guru mengembangkan ide pembelajaran, menyusun soal berbasis kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), membuat media pembelajaran, merancang skenario praktikum, dan menganalisis data hasil belajar. Namun, keputusan pedagogis tetap berada di tangan guru agar penggunaan teknologi sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pembelajaran.

Dalam kesempatan tersebut, Anik Rumpiati juga menekankan bahwa keberhasilan inovasi pembelajaran tidak hanya diukur dari menariknya media yang digunakan, tetapi juga dari proses dan hasil belajar peserta didik. Indikator keberhasilan dapat dilihat melalui keaktifan, interaksi, keterlibatan, hasil belajar, kemampuan berpikir kritis, literasi digital, hingga kemandirian belajar peserta didik.

Ia menyampaikan bahwa optimalisasi pembelajaran bukan tentang menggunakan teknologi sebanyak-banyaknya, melainkan tentang memilih teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan pesan dalam materinya, yaitu “Menggunakan teknologi yang tepat, pada pembelajaran yang tepat, untuk menghasilkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.”

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi secara langsung dengan pemateri. Dua peserta yang turut berpartisipasi dalam sesi tersebut adalah Yahya dan Silvia. Keduanya mengajukan pertanyaan seputar topik seminar, khususnya mengenai inovasi pembelajaran IPA di era digital. Sesi ini menjadi ruang bagi peserta untuk memperdalam pemahaman, bertukar gagasan, serta memperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai penerapan teknologi dalam kegiatan pembelajaran.

Melalui sesi diskusi tersebut, peserta diharapkan dapat memahami bahwa inovasi pembelajaran memerlukan perencanaan yang matang, kesiapan sumber daya manusia, pemanfaatan sarana digital, serta evaluasi yang berkelanjutan. Dengan demikian, teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menciptakan pembelajaran IPA yang lebih bermakna dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.

Seminar Nasional GALAKSI IX 2026 menjadi salah satu bentuk komitmen HMPS Tadris IPA UIN KHAS Jember dalam mendukung pengembangan kompetensi calon pendidik dan mendorong lahirnya inovasi di bidang pendidikan sains. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Tadris IPA semakin siap menghadapi tantangan pendidikan di era digital serta mampu menjadi pendidik yang kreatif, adaptif, dan berintegritas.

 (TP)

Bagikan: